Alismatales
Purnama merdeka dengan duka cita. Seketika tubuhku tertelan dingin malam, tenggelam dalam himpitan jarum jam. Sela senggang pertukaran nyawa ku isi dengan menata kembali ingatan kala kita saling bertukar cerita.
Apakah kamu ingat saat kita sibuk membicarakan perbedaan cara memasak mie instan yang sebaiknya dihancurkan atau dibiarkan tetap utuh, saat layar bioskop masih menayangkan film aneh saat kita memutuskan untuk berteduh. Atau saat kita, atau lebih tepatnya aku, menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang dalam perjalanan pulang selepas lelah kebingungan mencari alasan untuk berpisah. Atau saat aku mengajarimu teknik menggambar yang baik dan benar, setelah kurang lebih lima menit memandang sebuah lukisan pada satu pameran. Atau saat aku mengomentari masakan dari rumah makan yang kamu rekomendasikan, dan kamu balas dengan faktor eksternal seperti harga bakar bahan yang terus naik sehingga pemilik harus mengurangi bumbu pada setiap racikannya.
Atau, Atau, Atau yang lain yang mungkin bisa kamu lanjutan sendiri.
Sekarang hujan tidak semenyeramkan dulu, kepalaku sudah tidak bising lagi, nikotin yang ku suplai ke paru-paru sedikit ku kurangi. Sekarang aku tahu harus pergi kemana saat ingin bercerita, bukan malah semakin pusing karena harus memilih diksi yang seirama agar disukai para pembaca. Meski angka pembaca blog ini terus turun, setidaknya aku mendapatkan pukpuk dan sebuah pelukan. Ya, itu sepada.
Ya, sesekali aku juga olahraga. Makan ku juga sudah mulai teratur. Aku juga mulai merawat diri.
Setelah bertemu denganmu, rasa muak ku terhadap dunia berkurang drastis. Sebab, meski dibungkus dalam sebuah hubungan, kamu tetap memberikan kebebasan. Selalu memberikan ruang agar kita bisa saling berkembang. Dengan sengaja membiarkan aku berbuat salah, agar dapat ku jadikan dasar teori untuk belajar. Sebab, manusia akan dengan mudah dan senang hati berubah saat dorongan itu datang dari diri sendiri dan bukan paksaan atas nama pengorbanan.
Jika satu dunia merayakan 1 Agustus sebagai Girlfriend day, maka aku akan merayakan saat ingin saja. Sama seperti tanggal jadian, itu tidaklah terlalu penting. Selama kita masih bersama, setiap hari adalah perayaan yang tidak terucapkan.
Sekarang aku lebih ingin hidup dengan umur yang panjang, agar bisa lebih lama mengganggu mu.
