Dia yang Melebihi Aphrodite
Sejak kapan kamu menjadi kurang ajar? Tanpa bicara kamu berhasil membuatku rela menunggu berjam-jam di cafe yang biasa kamu kunjungi sepulang bekerja. Aku yang secara tidak sengaja menemukanmu diantara biji kopi arabica, malah harus terjebak dikedua bola matamu. Harus diakui bahwa parasmu membebani mata manusia, merusak determinasi jingga pada pentas cakrawala. Waktu di mana seharusnya aku menghabiskan dengan menatap senja pamit diantara gedung pencakar langit, malah harus aku habiskan dengan curi-curi pandang ke arahmu yang sedang sibuk entah mengerjakan apa. Mungkin disela-sela kesibukanmu, ingin sekali aku bertanya kapan terakhir kali langit mengirimi mu puisi? Sebab selalu ku temui pembiasan pada kedua retina mu yang menjadikannya pelangi.
Entah 30 menit atau bahkan kurang dari 5 menit, kelompak bunga di mataku mulai bermekaran. Mungkin semenjak aku rajin menyiraminya dengan melihat sosokmu yang bagai sinar tak pernah berhenti berbinar. Setiap kelopaknya melahirkan ratusan pertanyaan yang rasanya ingin ku utarakan, seperti bagaimana jika aku mencintaimu sebising gemuruh petir yang selalu menghantam pikir? Atau Bagaimana jika aku mencintaimu setajam katana yang menebas puluhan nyawa? Ya, aku tidak mengharapkan kamu abadi. Kamu tidak akan pernah terlahir kembali. Bukankah selamanya terlalu membosankan? Bukankah mengulang sesuatu secara berulang terlalu menyebalkan?
Aku hanya akan mencintaimu sekali, setelah itu kamu bebas untuk pergi atau mati. Yang abadi biarkan kekaguman ku atas keindahan mu dalam bentuk lukisan, kumpulan bunyi, ataupun puisi. Kau tak perlu ragu mengakui bahwa segala puja puji yang ku tulisankan terlahir dari tubuhmu.
Namun semua pertanyaan tersebut sepertinya terlalu kurang ajar, setidaknya pertama-tama seharusnya aku menanyakan siapa namamu terlebih dahulu. Ahhh, tapi dirimu terlalu sayang untuk tidak dicintai secara terburu-buru.
Namun, bagaimana bisa seseorang melukis rupa wanita yang ia cinta padahal mereka tidak pernah bertukar mata? Bagaimana mau bertukar mata jika sorot mataku malah membuatku buta. Aku tidak pernah bisa menatap mu lebih dari 2 menit, sebab sihirmu merayap pada ruang gerak fatom, menyasar pada kelemahan batin dan meratakannya seperti bom atom.
Terlalu banyak bagaimana, hingga tanpa sadar kamu sudah beranjak pergi dan meninggalkan aku yang masih tenggelam sendiri. Tanpa meninggalkan satu pun jawaban atas semua pertanyaan yang hampir membuat kepalaku pecah. Tak apa, masih ada ratusan jam untuk menunggu kamu kembali lagi.
Jangankan hanya menunggumu selama berjam-jam. Aku akan menunggumu dikehidupanku selanjutnya jika itu perlu.
