CSL: Menarik Bintang Dunia ke Liga Asia
by
Bonnars
- November 22, 2019
Dalam 3 tahun terakhir, Liga Super China (CSL) menarik perhatian pecinta sepak bola dunia.
Apa yang membuat Liga Super China berhasil menarik perhatian Dunia? Kenapa banyak pemain Bintang yang mau bermain di CSL?
Kegagalan Timnas China pada gelaran Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea, dimana Timnas China mengalami 3 kali kekalahan pada fase Grup tanpa sekalipun membobol jala lawan. Membuat pemerintah mulai memberi perhatian lebih untuk sepak bola China. Pada tahun 2004 CSL dibentuk untuk menggantikan Jia A League, sebagai kasta tertinggi liga sepak bola China.
Persyaratan bagi tim yang ingin bergabung di CSL sendiri mulai dibenahi, mulai dari tim peserta harus memiliki manajemen yang profesional, pengelolaan keuangan yang transparan, dan wajib memiliki akademi usia muda demi menunjang terlahirnya bakat muda pesepakbola negara Tirai Bambu.
Namun upaya tersebut tidak langsung berefek positif bagi sepak bola Tirai Bambu, semakin banyak uang yang mengalir ke CSL justru membuat kompetisi ini semakin rentan terhadap kasus korupsi. Skandal pengaturan skor, perjudian, hingga sogok menyogok untuk dapat mengirim pemain ke timnas semakin marak di sepakbola China.
Puncaknya pada tahun 2009, presiden Xi Jinping mengadakan Kampanye anti-korupsi termasuk di olahraga sepakbola. Chinese Football Association (CFA), selaku induk sepak bola China bekerjasama dengan lembaga anti-korupsi untuk membersihkan sepakbola China dari tindak korupsi. Hasilnya dalam kurun waktu 3 tahun, telah banyak Bintang sepak bola dunia yang hijrah ke CSL. Keberanian klub-klub CSL merekrut pemain berlabel Bintang didukung oleh finansial yang sehat, semakin sehatnya kompetisi semakin banyak investor yang berani mengeluarkan uang ke klub-klub CSL.
Bintang pertama yang merapat ke klub CSL adalah Hulk. Pada 2016 Shanghai SIPG berani menggelontorkan dana sebesar 50 juta pound atau senilai 886 Miliar Rupiah, untuk meminang pemain Brazil tersebut dari Zenit St Petersburg. Sepanjang tahun 2016 tercatat ada 8 Bintang sepakbola yang memutuskan untuk berlabuh ke CSL. Diantaranya ada nama-nama beken seperti Ezequiel Lavezzi yang ditebus Hebei China Fortune dari raksasa Perancis PSG. Oscar memilih untuk menyelamatkan karirnya ke CSL setelah jasanya tidak dibutuhkan lagi oleh Chelsea, Shanghai SIPG pun berani membayar 60 juta pound untuk pemuda 24 tahun (pada 2016) tersebut. Rekor transfer termahal di CSL dipegang oleh Carlos Tevez. Tevez ditebus oleh Shanghai Shenhua dengan nilai fantastis mencapai 70 juta pound, atau sekitar 1,1 Triliun Rupiah. Namun sayangnya, Tevez minim kontribusi untuk Shanghai Shenhua. Sehingga Tevez hanya bertahan 1 musim di CSL.
Terbaru ada nama Yanncik Carrasco. Di usia 25 tahun, dimana itu adalah usia produktif pesepakbola. Carrasco yang menjadi pemain kunci Atletico Madrid dan menjadi buruan tim-tim besar Eropa, nyatanya lebih memilih Dalian Yifang sebagai destinasi karier selanjutnya.
Mereka memilih liga China bukan hanya sekedar untuk menghabiskan masa-masa terakhir sebelum pensiun, namun kebanyakan dari mereka adalah pesepakbola di usia produktif. Kepindahan Bintang sepakbola pun diikuti dengan kepindahan pelatih TOP eropa. Pelatih yang telah melalang buana melatih klub-klub besar eropa seperti Scolari, Villa Boaz, Pallegrini dan Steven Goran Erikson kini menghiasi CSL.
Dengan taburan pemain Bintang, pelatih berkualitas, kompetisi yang sehat, serta dukungan finansial yang besar, kualitas sepakbola China akan meningkat. Hal tersebut juga berdampak positif bagi pemain muda potensial China, dimana para pencari bakat tidak hanya akan memusatkan perhatian pada Jepang dan Korea dimana kedua negara tersebut rajin mengirim bakat pesepakbola nya untuk menghiasi liga-liga eropa. Kini China juga wajib diperhitungkan. Dengan segala perubahan positif tersebut, China sedang mewujudkan impian untuk menjadi negara besar Asia bahkan dunia dalam bidang sepakbola. Paling tidak dalam satu dekade kedepan.
Apakah akan ada kejutan yang dilakukan oleh Timnas China kedepannya? Menarik untuk ditunggu.
