Puisi Seberang Jalan
Apakah kau ingat, purnama paling sempurna yang pernah kita lihat?
Tepatnya dua tahun yang lalu
Saat aku hanya berani menatapmu dari seberang jalan, tanpa sedikitpun ada keberanian melambaikan tangan
Bahkan malam itu aku menjelma menjadi seorang pencuri, yang dengan lihai mengambil senyum yang dengan ceroboh kau tinggal pergi
Diujung malam, yang kutemukan hanya gelapnya aspal kusam
Dan debu-debu sisa langkah kakimu
Yang kuingat malam itu, aku resmi menjadi seorang penunggu, membunuh waktu dua tahun hanya untuk menatap wajahmu.
Setelah dua tahun tak jumpa, semuanya terulang lagi dengan sempurna
Aku kembali menatapmu dari seberang jalan, lambaian tanganku masih tidak punya keberanian
Yang berbeda dari reuni kecil kita, hanya kau tak lagi sendiri menyusuri jalanan kota.
Ada seseorang yang sangat beruntung malam itu, dia berdiri disampingmu. Menjarah semua senyummu, Mengunci hatimu, dan mematahkan jantungku.
Walau kita hanya bertemu kurang dari sepuluh menit, bahkan kita tidak saling sapa walau hatiku sudah menjerit
Kau sudah berhasil mencuri hatiku, hingga selama dua tahun ini, aku menaruh bayangmu di jantungku. Agar semua orang tau, kenapa aku tidak bisa hidup tanpamu

0 comments