Puisi : Pamit
Kita seperti dua sisi mata uang
Saling menyatu, tetapi tidak dalam satu ruang
Aku tenggelam dalam malam saat kau sedang menikmati aroma siang
Kita saling merindu, tetapi memilikki pendapat berbeda tentang kebahagiaan
Aku seorang penikmat senja dan kau pecinta titik hujan
Aku hanya ingin mencintaimu sesederhana kata dengan titik
Bersama rangkaian cerita kita hanya akan berhenti menitik
Aku hanya ingin mencintaimu sesederhana senapan membutuhkan peluru
Bersama kita hanya akan mati ditikam rindu
Ujung dari semua cinta dan luka hanya bermuara pada kata pisah
Walau telah kita tabur semua rasa di pangkal lidah
Tetapi rasa paling dominan adalah pahit
Yang memaksa raga untuk pamit
Tetapi percayalah
Aku masih ada pada setiap fajarmu
Aku masih selalu mengucap selamat malam pada setiap mimpimu
Percayalah
Aku..... masih mencintaimu
Saling menyatu, tetapi tidak dalam satu ruang
Aku tenggelam dalam malam saat kau sedang menikmati aroma siang
Kita saling merindu, tetapi memilikki pendapat berbeda tentang kebahagiaan
Aku seorang penikmat senja dan kau pecinta titik hujan
Aku hanya ingin mencintaimu sesederhana kata dengan titik
Bersama rangkaian cerita kita hanya akan berhenti menitik
Aku hanya ingin mencintaimu sesederhana senapan membutuhkan peluru
Bersama kita hanya akan mati ditikam rindu
Ujung dari semua cinta dan luka hanya bermuara pada kata pisah
Walau telah kita tabur semua rasa di pangkal lidah
Tetapi rasa paling dominan adalah pahit
Yang memaksa raga untuk pamit
Tetapi percayalah
Aku masih ada pada setiap fajarmu
Aku masih selalu mengucap selamat malam pada setiap mimpimu
Percayalah
Aku..... masih mencintaimu

0 comments