Pagi di Januari
Fajar mulai menyisir dari tepi timur, menjamah dasar keheningan yang tengah tumbuh subur. Matahari menggembala gumpalan awan menuju kaki-kaki surga, kala embun melukis keindahan pada kelopak bunga. Kemudian kamu, masih menjadi petani yang rajin untuk selalu menyiangi gulma yang mulai tumbuh atas upayaku melupakan penghianat mu.
Aku kembali menghirup dunia dalam keadaan terjangkit sakit, menyapa setiap sudut kota dengan kebahagiaan yang kiat menyusut, menerjemahkan kenyataan sebagai rajutan benang kusut. Kemana pun aku pergi, tempat yang pernah kita kunjungi adalah potongan puzzle yang selalu melengkapi susunan penderitaan yang dulu ku sebut masa depan.
Pena yang kau berikan menjelma anak panah. Yang dengan sengaja ku gunakan untuk mengabadikan makna singgah. Sebagai pertanda bahwa niatan untuk saling melengkapi adalah abadi. Walau akhirnya kita sepakat untuk saling menyudahi, setelah kau dengan bangganya membagi yang seharusnya tidak dibagi.
Aku tidak menyuruhmu untuk tetap tinggal. Meminta pun hanya akan berakhir gagal. Pada akhirnya rasa kita memang harus tanggal.
Aku selalu meletakkan mu di paragraf terakhir, namun dalam hal merencanakan ternyata aku masih amatir. Aku lupa, pada setiap cerita akan selalu ada pihak ketiga, dia akan dengan sengaja hadir, mengubah pola pikir, memaksa kita untuk segera berakhir. Pada akhirnya, hanya aku yang dipaksa untuk terluka. Akan cerita yang baru akan kalian rangkai, dan ceritaku yang kini hanya berujud bangkai. Mati sebelum terurai, membusuk sebelum aku sempat melepas rantai. Sehingga, kala mereka melihatku,mereka masih bisa mencium baunya.
Terima kasih.
Kalian berhasil membuatku menjadi mayat hidup, memaksa hari-hariku menjadi redup. Dengan mengambil semua cahaya pada unggahan kebahagiaan yang selalu kalian pamerkan, dan hanya meninggalkan panasnya yang menyengat, membuat gerakan ku semakin tersekat.
Kalian berhasil membuatku menjadi mayat hidup, memaksa hari-hariku menjadi redup. Dengan mengambil semua cahaya pada unggahan kebahagiaan yang selalu kalian pamerkan, dan hanya meninggalkan panasnya yang menyengat, membuat gerakan ku semakin tersekat.

0 comments