Dehidrasi Sunyi

by - Maret 31, 2020

Ombak menggulung getir kecewa yang selalu ku terima, atas sikapmu yang selalu menimbulkan tanda tanya. Pasang surut air mata susah payah ku seka agar kamu bahagia tanpa harus merasa berdosa. Selayaknya pertunjukan, kau selaku penikmat komedi ku tidak perlu tahu segetir apa aku menguras derita agar mulutmu melahirkan tawa. Pada setiap akhir pertunjukan ku, kau selalu menjanjikan Purnama pada setiap sisa malam yang ku damba. Aku rasa itu bayaran yang setimpal, atas kerja kerasku menanam tawa dan kau yang menuai.

Namun hanya tikaman sunyi yang ku temui di setiap penghujung hari. Purnama yang kau janjikan menggelandang menyusuri setiap cangkir di meja-meja tempat nongkrong, dihiasi dengan basa-basi hangat menanyakan nama, kau larut dalam hangatnya obrolan yang mengendap di gelas-gelas kopi yang terabaikan oleh setiap rayu yang selalu kau respon dengan rekahan tawa sebagai pertanda sinar purnama di wajahmu belum juga sirna. Senyummu memang adalah penawar paling manis atas pahit yang susah payah mereka telan hanya untuk sebuah pembuktian, bahwa mereka layak dinobatkan sebagai pecinta kopi dan siap jatuh hati. Cerita tentang lagu-lagu indie yang baru mereka dengar sekali, menjadi amunisi agar bibirmu yang merah menjelma menjadi kebun tawa. Namun, humor mereka tidak sehebat ceritaku, tawa hanya sesekali menipis sebagai tanda terimakasih atas upaya membuatmu bahagia. Harus kau akui, bahwa hanya aku yang rela merobek nadi agar bibirmu menjelma pelangi.

Pada setiap malam yang kau lewati selalu sempurna, pertemuan dengan nama-nama baru, obrolan hangat yang berhasil mengarungi waktu, dan tidak ada aku. Aku yang terlalu berharap, bahwa kau akan datang dan aku bisa menemui pulang, hanyalah sebuah angan. Nyatanya aku masih menunggu penuntasan janji, untuk menyerang balik sunyi atas kekejamannya yang berkali-kali membuatku mati.

Yang aku takutkan, alasanku tetap bertahan, aku hanya membenci sendiri. Yang aku takutkan, alasanku ingin memilikimu hanya sebagai ajang pembuktian diri.

Tidak ada yang lebih pahit dari perjuangan yang tidak pernah mendapatkan pengakuan. Panjang umur kita, sebab tanpa kita tidak akan ada perjuangan untuk diceritakan. Dan tentunya di sia-siakan.

You May Also Like

2 comments