Perlawanan Tanpa Kekerasan
Bismillahirrahmanirrahim
Tidak salah jika manusia selalu ingin menjadi yang paling pertama, dalam segala hal. Hal ini didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dimana pertukaran informasi antar belahan dunia bisa terjadi di atas kasur. Saat terjadi permasalahan, bencana, bahkan unggah di media sosial, kita selalu berlomba untuk menjadi yang pertama.
Saat bencana, misalnya banjir bandang menghanyutkan harta benda bahkan merenggut nyawa, saut-sautan doa terjadi di kolom komentar. Semua hadir dengan panjatan doa paling mulia, namun sering lupa beribadah di dunia nyata. Seakan Tuhan ikut berselancar di dunia Maya.
Saat terjadi sebuah masalah, semua hadir dengan narasi paling sakti hasil dari kutip sana-sini. Berbicara paling vokal, walau isi kalimat jauh dari nalar. Menyudutkan mereka yang tidak mau berbicara, seakan yang diam tidak ikut melawan. Siapa tau mereka sudah terlebih dahulu belajar dari pengalaman, dimana mereka takut apa yang disuarakan akan menjadi penyesalan dimasa depan. Perkembangan teknologi yang pesat, tidak diikuti oleh perkembangan otak yang baik. Di masa sekarang, melawan tidak harus dengan turun ke jalan. Yang paling parah adalah merusak fasilitas, dan mengganggu aktivitas. Perlawanan tanpa kekerasan adalah bentuk perkembangan zaman. Wiji thukul adalah bukti paling nyata. Perlawanan beliau abadi tak menua meski dimakan usia. Wiji thukul adalah bunga yang dipaksa hilang, namun Wangi masih bisa tercium hingga sekarang.
Panjang umur perjuangan, usahakan sebelum berjuang sudah punya modal tentang kebenaran yang akan disuarakan. Dan jika ingin menyerukan kebenaran, jangan dengan melanggar hak orang. Sebab kita manusia, bukan seperti mereka yang duduk di tahta sembari menebarkan dosa.

3 comments
Uwohhh
BalasHapusMantupss
BalasHapusHai, terimakasih
Hapus