Mungkin

by - Juli 24, 2021

Pada salah satu hari di bulan Januari, kau mengirimkan undangan pertemuan setelah kita memutuskan agar lebih rajin dalam berbalas pesan. Aku hadir dengan koleksi terbaik yang tersimpan rapi di dalam lemari, bau parfum loundry ku timpa dengan parfum mahal hasil sedekah dari seorang kawan. Entah, karena bau parfum yang mahal atau isi pesan mu yang tidak sabar untuk bertemu. Roda motor ku menggila ketika menggilas aspal, untuk memangkas jarak yang membentang agar kita segera dipertemukan. 

Jika saja mencintaimu hanyalah sebuah pilihan, mungkin saat ini aku tidak akan jatuh sejauh adam dan hawa ketika meninggalkan surga. Namun saat hatiku telah terjamah oleh aroma mu, mencintaimu adalah sebuah keharusan. Aku rela menaklukkan dunia jika hanya itu satu-satunya cara agar sorot matamu kembali menyinari bumi. Rembulan menjelma omong kosong, sinar yang ia janjikan hanya berarti bohong. Sebab malam-malam ku hanya berisi sumpah serapah kunang-kunang yang tengah mengutuk kehidupan. Malaikat mulai bosan menghitung dosa, hingga mereka mulai merajut doa-doa agar penduduk bumi tidak segera bermigrasi ke surga. Aku, hanyalah satu dari jutaan hina yang mengharap surga dari tubuh wanita. Jika hanya dengan senyuman saja kau sudah berhasil membuatku gila, bagaimana jika kita dipertemukan pada sebuah rasa yang sama? 

Mungkin jatuh hati padamu tidaklah terlalu buruk. Kita bisa saling mempertawakan kekurangan satu sama lain. Saling pembandingkan takdir untuk mengukur siapa yang paling tragis saat hari memutuskan untuk berakhir. Mungkin, kamu bisa menjadi teman untuk berbagi. Entah kamu tertarik atau tidak, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin agar kamu menjadi orang pertama, akan berbagai hal yang telah aku alami.

Ah, aku terlalu lama terpaku pada angan. Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan, aku pun tidak ambil pusing akan keputusan tersebut. Pada akhirnya, aku hanya bisa untuk berusaha. Menapaki jalan yang telah kau buka, untuk menemukan bahagia. Entah, hanya untuk malam ini atau selamanya, pada batas waktu yang memuai di udara. Setidaknya pada malam ini aku tahu jika aku telah resmi menjadi seorang pesakitan, yang hanya dapat merasakan bahagia ketika raga kita baru dipertemukan.

You May Also Like

0 comments