Konstanta Laplace

by - November 03, 2017

Derap langkah sore itu membawaku kepada sesosok bidadari. Alam seakan sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, bahkan sebelum romeo dan juliet diciptakan. Aku berdiri ditempat yang sudah diberi tanda oleh mentari. Diam, memandang sosok perempuan yang sedang kebinguangan untuk mengeluarkan kendaraannya.

Alam memainkan lagu yang khusus diciptakan untukku, bahwa sebelum akan dapat berbicara. Nada sunyi, hanya ada suara gesekan cahaya dengan udara yang masuk ketelingaku. Seakan-akan kupingku mencibir semua suara yang sedang lalu lalang memenuhi tempat ini. Mataku spontan menyorot tubuhnya, agar setiap gerakan indah dari lekuk tubuhnya dapat disaksikan seluruh sel yang menempel dalam tubuhku.
Seluruh aktivitas dalam tubuhku berhenti, hanya untuk melihat sosok bidadari sedang susah hati, tetapi itu seakan-akan adalah hiburan yang hanya terjadi 1000 tahun sekali sehingga sayang untuk dilewatkan. Jantungku berhenti memompa darah, paru-paruku berhenti mengatur lalu lintas udara, semuanya berhenti. Hanya hati yang masih berpikir, dan otak yang masih menerka rasa.

Apakah aku harus berlalu dan kembali dengan masa lalu, atau mengumulkan tekat untuk mendekat.
Disaat semua ragu menjadi sekat, raga berkonspirasi dengan semesta. Mendorong tekat untuk mendekat, memaksa mulut untuk berucap dan terjadilah peristiwa terpenting dalam sejarah manusia. Pertemuan dua insan yang sudah ditakdirkan sejak manusia mengenal cinta. Mata kita saling berpeluk hebat, jantung kita berdegup cepat, dan sebuah kalimat terucap.
 "Bisa keluar gak?" Diucapkan dengan nada yang bergetar, sedikit agak lantang, seperti sedang berbicara dengan lawan sebelum melakukan pertarungan. Mungkin sekarang aku juga sedang bertarung, bukan raga yang melaksanakan, tetapi hati yang sedang bergulat hebat dengan rasa takut yang menjadi lawan.
Kau hanya membalas dengan gelengan kepala, tanpa sedikit pun mengeluarkan kata. Ragaku bergerak sendiri, berjalan mengeluarkan kuda imut berwarna hitam yang selalu bertanggung jawab atas perjalananmu. Setelah tugas telah dilaksanakan, ucapan terimakasih menjadi bayaran setimpal atas tindakanku yang tak disengaja. Itu terlalu berlebihan, seharusnya aku yang berterimakasih karena sudah diberi kehormatan menyiapkan kendaraan yang akan mengatarkanmu pulang.

Aku sangat berterimakasih kepada tuhan, karena sudah membuatku terlambat pulang sehingga bertemu dengannya diparkiran. Aku sangat berterimakasih kepada semesta, karena telah membantu ragaku untuk menjemput cinta. Aku sangat berterimakasih kepada sosokmu, karena telah memberiku kesempatan untuk berjalan.

Tunggu dulu. Cerita cinta ini tidak berakhir disenja itu, itu bukan adegan penutup dalam drama yang sedang kita mainkan.

Saat aku sudah pulang dan masih terbayang senyum manismu, ada rasa senang sekaligus malu karena tingkahku yang malu-maluin. Jauh dari kata romantis, bahkan musrik jika dipercaya sebagai salah satu cara melakukan PDKT. Akan tetapi tuhan berkata berbeda, ponsel yang rindu akan getaran pesan yang selalu menanyakan kabar, kini bergetar kembali. Aku coba ngecek, dan berharap bukan pesan dari operator yang mengingatkan tanggal kematian kartu ini karena sekarang tidak aku pedulikan. Toh, tidak ada yang mengajak berbincang. Tetapi setelah aku baca barisan huruf diatas layar, hatiku berhenti sebentar untuk berteriak.

"Wow!!!!"

Ini pesan dari dia, entah dia salah makan atau salah orang. Biasanya aku yang menyerangnya dengan berbagai pertanyaan, tetapi tidak satu pun kau hiraukan. Seperti tarian mimpi, kau menghubungiku lebih dulu. Kau membuka portal yang selama ini selalu kau kunci, agar aku tak bisa lewat dan memaksaku untuk pergi. Tetapi, saat aku memutuskan akan pergi, kau malah menarikku kedalam pelukanmu. Hangat, nikmat, dan penuh fantasi.

Kini tepat 26 bulan kita melukiskan cerita. Dibuka dengan insiden kecil diparkiran sekolah, dan masih mencari penutup cerita ini. Entah akan berakhir bahagia atau malah membuat luka, tetapi terimakasih telah mengajarkanku bahwa cinta tidak hanya bertahan 1-2 bulan. Terimakasih telah mengajariku apa itu cinta apa itu penasaran belaka.
Selamat telah menjadi penghuni paling lama singgasana hati, tetaplah hiasi malam-malamku dengan senyummu. Sebab keindahan malamku telah berpindah ke wajahmu, sosokmu telah berubah menjadi bintang, tempat semua rinduku bersemayang. Bingkai mimpi-mimpi kita, lalu pasang di depan pintu hatiku. Agar setiap kau berpikir untuk pergi, kau akan melihat janji yang telah kita sepakati sehingga niatan untuk pergi akan pergi sendiri. Peluk hangat ragaku, jabat erat hatiku. Ini mimpi kita, aku tidak akan membiarkan kau berjuang sendiri.

Terimakasih untuk 67.392.000 detik yang tak terlupakan, sampai jumpa ditempat yang selalu kau nantikan.

Klaten, 03 November 2017

You May Also Like

0 comments