Lupa Arah Pulang
Saya baru mendapatkan sudut pandang baru, seseorang pernah berkata bahwa “Tidak ada orang yang sudah selesai dengan masa lalunya, sehingga ketika ada seseorang yang menyukainya maka orang tersebutlah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masa lalunya agar ia bisa kembali memulai.”
Setelah
dipikir ulang, saya rasa hal tersebut adalah benar. Sebab seseorang memang
tidak akan pernah bisa selesai dengan masa lalunya sebelum bertemu dengan
seseorang yang tepat hanya untuk sekedar berdamai. Seperti apa yang dikatakan
oleh pemerintah kita, berdamai adalah hidup berdampingan bukan menyelesaikan.
Jadi saya rasa memang benar ketika seseorang telah selesai dengan sebuah
hubungan, namun belom tentu selesai dengan kenangan yang terukir dikepalanya.
Kerap kali kita temui beberapa orang pulang dengan luka, trauma, bahkan
pertaruhan nyawa.
Jadi
jika kalian jatuh cinta dengan seseorang yang belum dapat menyelesaikan masa
lalunya, itu adalah tugas kalian untuk membantu dia lepas dari trauma. Mungkin
di dalam hubungan sebelumnya dia diperlakukan secara tidak baik. Mungkin sifat
buruk yang terbawa pada hubungan berikutnya adalah bentuk trauma dari luka yang
dia dapat dari hubungan sebelumnya. Belum lagi usia remaja dimana semua orang
masih memiliki sifat bodoh, seperti cemburu yang tidak penting, sifat mengatur
yang tidak pantas dilakukan oleh seorang tamu terhadap pemilik rumah.
Saya
rasa sifat-sifat tersebut adalah fase yang wajar dilalui oleh semua orang ketika
menjalin hubungan dalam proses menuju dewasa, yang berbeda adalah ada yang
berubah dan berbenah. Namun tidak sedikit yang terbawa sampai dewasa
dikarenakan ketika dia belum selesai dengan masa lalu namun telah bertemu
dengan hubungan baru. Dimana dia harus kembali beradaptasi, dengan upaya untuk
menyembunyikan trauma sebab orang baru tidak mau bertoleransi. Sebab kebanyakan
orang menganggap kehilangan dapat diobati dengan kedatangan, hingga bahagia
terlalu dibebankan kepada orang lain.
Liat,
cinta itu membingungkan. Kita tidak boleh membebani orang lain dengan ekspetasi
untuk berbahagia, namun kita juga harus bertanggung jawab dengan bahagia orang
lain yang dibebankan kepada kita. Namun itulah manusia, langkah yang akan
diambil tidak dapat diprediksi. Apalagi dalam sebuah hubungan yang dipaksa
untuk menyatukan dua kepala dalam ikatan yang sama. Fatalnya kita selalu merasa
telah dewasa, merasa paling mengerti tentang perasaan orang lain. Hingga lupa
bahwa manusia adalah makhluk paling rumit, apalagi tindakan yang telah
tercampur perasaan.
Jujur
saja saya tidak tahu sedang menulis apa. Maaf telah menghabiskan waktu anda
dengan sia-sia. Have a nice day.

0 comments