Menggenang di Jalanan November

by - November 07, 2021

Alur hidup yang digariskan oleh Tuhan selalu memiliki kejutan. Kita yang baru beberapa bulan kemarin merencanakan tanggal pernikahan, harus dengan lapang dada menerima perbedaan karena memang hanya kamu yang sesuai rencana duduk di pelaminan. Sedangkan aku hanya hadir sebagai tamu undangan. Aku pun hadir dengan pertahanan yang payah, sehingga ketika semua saksi berucap "sah", air mata yang sedari tadi ku bendung mulai pecah. Ku pikir bekal menangis semalaman cukup untuk bertahan, setidaknya saat tiba giliran ku untuk menjabat tangan mu sembari mengucapkan selamat untuk kehidupan baru yang selalu kamu tunggu. Tuhan benar-benar menghukum ku setelah tidak mau berebut dengan nasib atas kepemilikan hatimu. Mungkin memang seorang pria harus rela mengobral harga dirinya untuk wanita yang ia cintai, sebab percuma tetap memiliki harga diri namun rotasi bumi dan segala aktivitas dipermukaan terhenti. 

Pada akhirnya kita memang harus melihat dunia dengan kaca mata yang berbeda. Saat janji untuk saling mencintai sehidup semati membuat jemari mu terikat, aku masih sibuk membandingkan harga promo tiket pesawat. Kamu yang sedang hangat-hangatnya memilih warna sofa, motif selimut, dan tata letak vas bunga, bahkan mungkin telah menyiapkan nama untuk anak pertama, sedangkan aku masih berkumpul dengan kawan untuk saling mencela klub bola. Berdebat tentang asal-usul bahan bakar neraka sampai bagaimana cara membuka pintu surga. 

Setelah dirasa merusak organ tubuh sudah tidak terlalu ampuh. Aku mulai menjelma menjadi Ninja Hatori, mendaki gunung melewati lembah. Hanya untuk menghindari masalah. Juga sekedar menyiasati luka agar tidak terlalu sering menyapa. Ternyata jauh lebih sulit untuk menemukan kembali sebuah alasan dalam membangun perasaan, dibandingkan mencari tempat menginap gratisan saat dalam perjalanan menuju kebebasan. 

Ternyata berdamai dengan masa lalu butuh banyak tenaga dan waktu. Aku tidak ingin melupakan semua kenangan yang pernah kita banggakan. Aku hanya ingin menghilangkan rasa sakit ketika memori itu sesekali bersandar pada pikiran. Bahkan aku ingin membuat sebuah prasasti semegah taj mahal, bukti cinta yang merusak akal. Agar bisa kamu kunjungi kapan pun kamu mau. Mungkin setelah lelah seharian mengurus rumah dan menjaga anakmu yang baru mulai belajar berjalan. Kamu bisa hadir dengan kondisi apapun, sebab bagiku kamu selalu mempesona meski hanya dibalut daster rumahan dan tanpa campur tangan riasan. Aku tidak menganggap bahwa nasibmu akan lebih baik jika masih bersamaku, mungkin kamu bisa saja lebih kepayahan karena juga harus mengurus aku yang tidak mau kalah dimanja dengan anak kita. 

Kenapa aku selalu bertingkah seolah-olah aku memiliki pilihan, segala bentuk penghancuran kesehatan dan rentetan kesibukan adalah garis Tuhan yang tidak bisa aku lewatkan. Jika aku bisa memilih, aku dengan sangat yakin akan memilih menikmati kemewahan berbentuk kehangatan yang kamu tawarkan. Aku rela menukar segala bentuk kebebasan dengan belenggu kerja kantoran agar masa depan kita terjamin dikemudian. Aku rela menukar semua bentuk keajaiban yang kutemukan dalam perjalanan, agar bisa melihat anak kita tumbuh besar dengan sehat dan hangat. Aku rela menukar semua bentuk keabadian yang larut dalam foton cahaya jingga, agar kita bisa hidup dalam damai sembari menua bersama. 

Aku rela. 

You May Also Like

0 comments