Bukan Ini Judul yang Aku Harapkan
Sinar Purnama surut saat senyum tanggung kamu paksakan hadir di antara kita, sebab perbincangan kita cenderung lebih berputar pada jeda. Denting gelas sesekali melarutkan canggung yang sedang naik daun. Kamu dengan ragu menanyakan kabar, aku dengan gugup menjawab ala kadar.
Aku mulai memberanikan diri bertanya perihal hari-hari yang kamu lewati, selepas kesepakatan kita untuk berjalan sendiri demi mengejar mimpi. Kamu jawab begini-begini saja, aku lebih berani dengan coba menggali ingatan tentang tempat yang mempertemukan kita. Sudut sekolah yang membuat kita memutuskan untuk mencoba bersama, sampai ledekan mu tentang alasanku membuat akun instagram karena cemburu dengan follower mu waktu itu yang sebagian besar adalah laki-laki. Berhasil mementaskan tawa di atas meja yang sedari tadi bisu, aku hanya tersipu malu. Senyummu masih saja mempesona, sampai berhasil mengubah rasa V60 yang ku pesan. Meski tanpa gula, namun setiap tegukan terasa manis setelah terdistraksi terik paras mu yang penuh akan glukosa.
"Minggu depan kamu libur gak?" tanya mu pada tanda koma ditengah tawa.
Mendengar itu, aku seakan melihat pintu surga dibuka lebar-lebar oleh malaikat Ridwan. Seakan aku akan kembali diajak mengurai bahagia lewat kenangan semasa SMA, saat kita melihat dunia dengan cara paling sederhana. Jika kita masih bersama, maka semua akan berjalan baik-baik saja. Mungkin kamu akan mengajakku mengulang jalan yang selalu membawa rinduku tenggelam. Atau menghabiskan waktu istirahat dengan jajan di gerobak batagor, yang saosnya selalu kamu rasa kurang pedas meski wajahmu menunjukkan ekspresi yang kontras.
Samar-samar aku mendengar suara sangkakala, entah sedang uji coba atau benar itu adalah tanda akhir dunia. Gumpalan awan runtuh dari langit-langit, membuat tubuhku terhimpit. Seketika paru-paru ku lupa caranya bekerja, pasokan oksigen menuju mata berkurang drastis dan tiba-tiba aku menjadi buta. Mataku melemparkan pandangan kosong pada nama pria yang bersanding dengan namamu, yang ternyata bukan aku.
Seharusnya bukan itu jawaban yang kamu tawarkan, aku baru saja menemukan celah agar kita kembali satu jalan. Belom sempat aku melangkah, kamu sudah membuatku kembali rata dengan tanah. Kenapa alasan kita kembali dipertemukan tidak sama dengan pertemuan Nabi Adam dengan Hawa setelah 40 tahun dipisahkan? Aku mengharapkan akhir sama, namun kamu hadir dengan jawaban yang menyesakkan. Waktu seminggu adalah waktu yang singkat, sebelum jemari mu diikat. Padahal aku sudah membayangkan bertemu dengan kedua orang tuamu, untuk mencoba mengupayakan sebuah restu. Namun bahagia mu sudah bukan aku, kamu sudah menemukan sosok laki-laki yang siap memperjuangkan mimpi-mimpi mu yang lama terhenti karena aku. Masa depan tidak melulu tentang pengorbanan katamu. Ya, harus diakui bahwa aku masih terlalu naif jika membicarakan kehidupan setelah pernikahan.
"Aku akan datang." jawabku.
Malam itu, pertemuan kita ditutup dengan gelisah. Dengan alasan sudah terlalu larut dan sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan kamu meminta izin untuk pulang, aku tidak bisa mengantar mu dengan beralaskan ada janji dengan seseorang. Tubuhmu tenggelam pada malam setelah mengucapkan salam. Ya, urusanku setelah kepergian mu adalah mengisi kembali gelas yang sudah kosong dengan menyambut kedatangan air mata yang sedari tadi aku tahan.

0 comments