Biarlah Berjalan Bagaimana Mestinya
Terbiasa dengan cahaya yang terang, sehingga lupa bahwa cara mencintaiku hanya seredup kunang-kunang. Aku tidak akan mengunci pintu, sehingga kamu bebas memutuskan kapan akan keluar. Pukul 7 pagi bersama embun yang menetes pergi, tengah hari saat matahari sedang mengagahi bumi, atau ketika deru ilalang membunuh sunyi.
Apakah aku terlihat tidak seperti berjuang? Mungkin iya, sebab ku pikir kamu sudah dewasa. Jika dikira tinta yang ku persembahan terlihat samar, kamu boleh menukarnya dengan yang lebih cetar. Sebab ceritamu mungkin butuh diwariskan ke tujuh turunan sehingga tinta ku tidak akan bertahan selama itu. Bahagia seperlunya, sebab dermaga masih jauh dari jangkauan.
Sepengetahuan ku yang sempit, kisah cinta yang terlalu diumbar dan selalu diceritakan dalam sejarah selalu berakhir pahit. Berbeda dengan kisah cinta kakek nenek yang bahkan terlalu malu untuk menyatakan cinta, namun bertahan dalam jangka yang cukup lama untuk umur manusia. Yah, cara pikirku tidak dapat dibenarkan. Selayaknya anak muda yang suka memamerkan kemaluan, gaya mencintai juga mengikuti para artis yang menjual ruang privat agar satu dunia tau bahwa mereka adalah pasangan paling sempurna.
Tai anjing adalah masukan dari manusia-manusia yang tidak ikut menjalani namun merasa paling berhak menghakimi. "Udah putusin aja, kamu layak dapat yang lebih baik." "Kalo aku jadi kamu sih udah aku putusin, ogah banget". Yah, karena mereka bukan kamu sehingga aku pun tidak sudi untuk sekedar suka.
Pilih jalan pulang yang kamu suka. Mau berbelit dengan beberapa hubungan dahulu atau langsung sadar dan memutuskan untuk kembali. Aku akan senantiasa berada di tempat yang sama, namun pintu ku tidak selalu terbuka. Suatu saat aku ingin menguncinya dan menghindar dari kotoran-kotoran yang suka menghakimi.

0 comments