Rengkuh
Awan memeras tangis di atas langit-langit, rintik berdetik meredam umpatan dan makian yang sedang turun lebat dalam sebuah debat. Desir angin menyeka sembab yang pecah tanpa sebab. Kita selalu kembali pada garis yang sama, ini bukan pertama kalinya aku merasa asing. Kita telah lama mengambil jalan yang sama namun tidak pernah menyempatkan untuk bicara. Perjalanan kita hanya dipenuhi rencana tanpa arah, padahal dalam hidup yang penting bukanlah hanya sekedar melangkah.
Selambat apapun, semua tetap akan pudar. Selambat apapun, rasi warna akan terasa hambar. Saat mata tidak ada lagi tenaga untuk terluka, hal-hal kecil yang dianggap istimewa semakin lama akan terasa biasa saja. Kemudian, semua hanya akan berhenti pada satu muara, yang biasa dijadikan alasan bahwa bahagia kalian sudah tidak sama. Atau mungkin memang dari awal kita tidak begitu cocok, bedanya dulu kita saling berusaha untuk melengkapi dan memperbaiki. Namun kini, dengan alasan lelah dan sibuk dengan alasan lainnya, perpisahan dinilai menjadi solusi paling mudah diputuskan. Ya, solusi paling mudah padahal tidak menyelesaikan.
Mungkin kamu akan kehilangan salah satu pejuang terhebat dalam hidupmu, atau mungkin aku hanya salah satu dari urutan bajingan yang berkata seperti itu. Semegah apa cinta yang dapat aku persembahkan sehingga sesombong itu dalam berujar dalam seremonial perpisahan. Deret masa hanya membuatku semakin sadar bahwa perbuatanku selama ini seperti menembakkan asam nitrat pada gemuruh awan yang membuatnya menjadi hujan asam. Meluluh lantahkan hubungan kita yang sedari awal sudah rentan.
Dalam sebuah perpisahan tidak selalu salah satunya keluar sebagai seorang pemenang, kita menepi dan sama-sama menjadi seorang pesakitan.

1 comments
apa iya
BalasHapus