Apakah jika tidak bersamamu, aku akan tetap baik-baik saja?
Terbitlah purnama dengan canggung, disela jeda kalimat mu yang semakin mendingin dan kian menusuk jantung. Kepala dan hatimu penuh akan penjelasan yang ingin diutarakan, namun mulutmu tak kuasa untuk melaksanakan. Aku pun kebingungan untuk menjelaskan.
Bahwa, bagaimana jika masalahnya bukan di kamu, tetapi aku?
Matamu mati-matian menahan agar tidak ikut terlibat, aku setengah sadar bahwa semuanya telah terlambat.
Hembusan nafas menghentikan kita. Kita berulang kali saling membuat luka, namun akan dengan sembuh dan kembali menumbuhkan renjana.
Malam itu, air mata yang ditahan sekuat tenaga akhirnya terpecah, bukan kamu yang kalah, tapi aku. Malam itu, aku membunuh diriku sendiri.
Terkadang luka perlu dirayakan
Apakah aku menyesal atas ikatan yang pernah kita jalin? Ya, aku menyesal.
Aku menyesal tidak mengunjungi lebih banyak tempat-tempat indah bersamamu.
Aku menyesal tidak mencoba lebih banyak makanan baru bersamamu.
Aku menyesal tidak tersesat ke lebih banyak gang-gang sempit, agar ada alasan kenapa kita terlambat untuk pulang.
Aku menyesal, karena telah melepasmu.
Malam itu, aku hanya berharap kamu menahanku lebih erat. Menarik ke pelukanmu kembali lebih kuat. Namun malam itu pun kamu hancur. Akhirnya kita saling memanjakan jarak.
Aku tidak tau harus menulis apa lagi, aku hanya berharap kamu senantiasa bahagia. Meski katamu aku adalah bahagiamu, aku yakin waktu punya porsi untukmu untuk menemukan kembali bahagia dan cinta.

0 comments