Mendamba Panasea
Sampai sekarang aku masih tidak menyangka, bahwa dari luka yang teramat dalam dapat tumbuh sebuah bunga dengan pendar aurora. Silau adiwarna yang kamu buat mekar berhasil memperdaya para jalang untuk membuat hingar bingar, sibuk saling sikut untuk mengakusisi sampai lupa bertanya apa kamu baik-baik saja.
Sering kali aku temui kelopakmu bercucuran air mata, namun mereka masih sibuk berebut untuk mematahkan tangkaimu dan berharap dapat memiliki surga pada dirimu selamanya. Namun mekarmu hanya sementara, dan layu hanya perihal waktu hingga mereka menggantimu dengan bunga yang baru.
Apakah dari sekian banyak kotoran itu ada yang bertanya, "Apa kamu bahagia?"
Jika tidak ada, maka ijinkan kotoran seperti aku menanyakan hal tersebut pada rupa sempurna dari penjelmaan jelita yang sebenarnya.
"Apa selama ini kamu bahagia?"
Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan nirwana padamu, namun setidaknya aku akan membantumu untuk sembuh dan terus tumbuh untuk kembali melahirkan aurora yang senantiasa dirindukan oleh langit malam.
Pada sabda permata yang gugur pada lenggang rahang yang tergenang, kamu selalu mendamba akhir cerita yang sempurna. Hidup bahagia berdua selamanya dan selalu merasa dicinta.
Begitu juga aku,
Pada keyakinan yang diajarkan oleh setiap daun yang angkuh, ijinkan aku turun dalam perang mu. Melawan apa pun yang coba memetik tangkaimu. Membunuh semua iblis yang coba menggodamu. Menebas kepala setiap lebah yang ingin menyakiti mu.

0 comments