Ternyata Aku Membenci Pulang
Dekap dingin rembulan masih menemani ragaku pada sebuah penantian, tenang saja aku masih punya setumpuk cemburu untuk membuat ku tetap terbakar dan hangat. Entah sejak kapan aku suka menelan sepotong malam sendirian, sembari sibuk berbincang dengan diam.
Entah sejak kapan aku membenci hal-hal manis, seperti bincang hangat diatas meja makan. Aku benci suasana hangat keluarga yang menyimpan beribu pertanyaan dan hanya membuatku seperti diruang peradilan. Menghakimi setiap langkah yang aku tapaki dimana tidak dapat mereka mengerti, seakan jika tidak hidup seperti cara mereka selama ini adalah sebuah dosa yang hanya akan membuat hidupku nelangsa. Padahal aku sudah dihukum dengan setuju untuk dikirim hidup di dunia.
Aku membenci hal-hal manis, seperti kejutan untuk hari kelahiran, karena mereka selalu mengarahkan sorot penuh harap pada jiwa dan raga yang semakin menua dan semakin mudah merasa kelelahan. Lelah untuk memenuhi omong kosong yang selama ini dibebankan, setidaknya biarkan aku bangun kesiangan. Menghabiskan gaji tanpa peduli akan tabungan untuk masa depan, atau sekedar hal-hal kekanakan tanpa peduli pertambahan angka pada kolom usia, toh itu cuma angka.
Aku bosan untuk terus mencari hal baru, bosan untuk menambah wawasan yang bahkan tidak akan berguna untukku. Kenapa hidup tidak hanya sekedar menamatkan game yang kita suka dan mengulanginya ketika melakukan kesalahan, atau tidur seharian dan tidak melakukan apa-apa sampai kepala pusing dan memuntahkan asam lambung dengan sengaja. Tidak bisakan kita berhenti untuk bertanya? Inipun aku malah kembali bertanya. Lupakan.
Bagaimana jika selama ini yang berisik dan kacau hanyalah isi kepala ku, dan kamu adalah penyulam dengan senandung merdu yang permai. Bagaimana jika aku tidak suka kerapian itu, bagaimana kalo aku tidak suka ditenangkan seperti sorot matamu yang damai. Bagaimana jika aku hanya mencari-cari alasan padahal aku memang hanya ingin pergi?
Aku hanya bosan pada hal-hal indah yang fana, namun menampar kepalaku dua kali lebih keras dari biasanya.
Untuk saat ini aku hanya sedang tidak ingin bertanggung jawab, aku hanya sekedar tidak ingin merencakan sesuatu untuk hal yang belum tentu. Sebab dalam hidup kita tidak bisa menyegerakan sekalian, terkadang kita harus sabar menapaki selangkah demi selangkah untuk progres yang tidak seberapa. Aku bosan dan lelah untuk terus mengutuk diri sendiri atas kesalahan di masa lalu karena tidak bisa kembali dan memperbaiki.
Akhir-akhir ini kepalaku kembali sering merasakan pusing, akhir-akhir ini aku kembali menahan diri untuk bercerita. Aku kembali merasa takut setiap langkah yang aku ambil akan kembali dihakimi, dinilai dan dikoreksi.
Aku takut tumbuh menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

0 comments