Autumn in February

by - Februari 29, 2024

Untuk kisah yang telah berakhir, kamu meminta kepada takdir, agar kita tidak dipertemukan kembali dan abadi dalam keasingan. Aku pun paham kenapa kamu bisa bersikap seperti itu, untuk luka yang hampir mengancam nyawa tidak adil jika kita disambungkan lagi dengan garis yang sama. Aku bisa saja kembali menarikmu pada rasa trauma penuh manipulasi bahwa kita akan tetap bersama dan baik-baik saja, luka dan air mata hanya mitos para pujangga untuk mendramatisir getir. Nyatanya aku yang pertama kali melangkah pergi, meninggalkanmu pada hancur lebur tangis dan kecewa sendiri.

Abadilah dalam dendam, sebab kita terlanjur mati untuk diobati. Aku hanyalah politisi yang penuh janji namun nihil akan bukti, berpesta sendiri merayakan patah hati dan tidak peduli atas derita yang rakyat alami. Aku selalu percaya riuh perayaan akan selalu diikuti sesal dan hampa dikemudian, akan tiba saatnya aku mengutuk diri sendiri atas romansa derita bernama karma. Ya, aku tidak sabar akan hal itu. Sebab selama ini aku hanya hidup tanpa renjana, mungkin luka dapat membuatku merasa menjalani hidup sebagai manusia sebab bahagia sudah kebas kurasa.

Terimakasih, telah berimajinasi tentang garis akhir yang indah. Di mana kita akan tetap bersama dan bahagia bahkan lebih lama dari selamanya, namun sedikit simpang jalan sudah berhasil membuat diriku goyah. Ya, aku memang tidak sempurna dan tidak lebih baik dari siapa saja. Begitu banyak kurang dan hina, sehingga kamu berhak dan bebas mencari yang menurut mu sepadan. Sampai saat ini aku masih berprasangka baik terhadap Tuhan telah mengirimkan dirimu ditengah hiruk pikuk kesendirian ku selama ini, ternyata aku tak pantas untuk sepenuhnya bahagia. Paling tidak, aku menutup tahun ini dengan sedikit petualangan menyenangkan sebelum kembali menenggelamkan diri pada rutinitas kesepian. 

Terimakasih, telah mengisi ruang kosong yang selama ini gagal aku isi sendiri. Bersamamu aku merasa dihargai dan dicintai selayaknya raja-raja mesir sebelum dikirim pada peristirahatan terakhir menuju perjalanan menuju sang Maha.

Paling tidak ketika ragaku hilang ditelan waktu, akan ada yang mengingat namaku meski dalam kesan yang hina namun setidaknya dunia menganggap diriku pernah ada.

You May Also Like

0 comments