Entahlah
Bagaimana jika dia bukan pilihan yang dapat kamu tolak walaupun dapat kembali ke masa lalu?
Bagaimana jika dia adalah titah yang harus dilaksanakan?
Mati atau selamat adalah proses yang harus dinikmati. Bersamaan dengan mengulang sesuatu yang usang berkali-kali, aku rela menjilat janji-janji untuk selalu bertanggung jawab atas bahagia yang selalu kamu dambakan. Dan kebohongan bahwa aku tidak akan pergi akan selalu menjadi puisi yang dilantunkan untuk membuat hari-harimu semenyala pagi. Hingga pada ujung dusta, aku memilih untuk tersesat dalam perjalanan panjang entah untuk apa.
Manusia tidak lebih dari sebuah perangkat, jika terhubung terlalu banyak dengan perangkat lain akan membuatnya cepat rusak. Ada beberapa yang harus disimpan rapat-rapat untuk menjaga beberapa hubungan agar tidak retak. Emosi dan daya pikir membuat manusia menjadi perangkat paling rumit, sehingga bersosialisasi secukupnya saja sebab kita butuh lebih banyak waktu sendiri untuk beradaptasi. Terkadang sikap alami manusia untuk bersosialisasi malah membebani memori dan sibuk sendiri. Setidaknya itulah yang selama ini aku yakini, bahkan bersosialisasi terlalu lama dengan satu manusia dalam hubungan sudah membuatku kewalahan.
Dalam perjalanan yang tidak terlalu lama namun sudah terlalu panjang, aku kelelahan sendiri dan tidak memiliki rumah untuk pulang. Ia pergi karena aku membuatnya pergi, sebagai makhluk yang bersifat dinamis aku bisa pastikan ia tidak akan kembali.
Itulah kenapa rumah harus selalu statis? Mungkin kita akan bosan dengan sudut yang hanya itu-itu saja, rutinitas yang hanya menunggu malam tiba, udara yang setiap hari selalu sama. Namun ketika aku sudah terlalu jauh pergi, ternyata aku menemukan tujuan dari perjalanan panjang ini. Aku, hanya ingin kembali ke rumah statis itu.
Aku tidak suka ketika tempat untuk kembali itu bersifat dinamis, ia akan berganti-ganti dan pergi kemanapun ia suka. Bertemu dengan dinamis-dinamis baru dan mungkin ia tidak akan kembali padamu. Namun jika ia adalah bagian dari ceritamu, ia akan kembali dengan kondisi yang lebih baik atau lebih baru dan yang pasti dengan sedikit luka. Aku tidak bisa selalu berkata "Mari kita lewati proses yang menyakitkan ini bersama", sebab aku sudah terlalu lelah dengan kehidupan yang tidak seberapa ini. Aku rindu dengan sudut yang hanya itu-itu saja, rutinitas yang hanya menunggu malam tiba, udara yang setiap hari selalu sama.
Jika tujuan akhir dari manusia hanya kematian, mungkin aku sudah mencapainya sebelum waktu yang sebenarnya benar-benar datang.

0 comments