Terminal Lucidity

by - April 18, 2025

Untuk jiwa dan gairah yang telah lama mati, bukankah saat ini sudah waktunya untuk memulai kembali? Entah ini hanya delusi, atau memang sudah waktunya untuk semesta mengilhami. Namun bagaimana jika memang tidak pernah ada waktu yang tepat untuk memulai kembali?

Selama ini aku hanya menolak untuk sembuh, agar selalu bisa mengambil jalan pulang yang lebih jauh. Sebagai alasan untuk menunda kepulangan, bahkan aku sampai melepas semua peralatan menyelam agar diriku bisa semakin dalam tenggelam. Sebab aku selalu percaya bahwa waktu akan selalu menyembuhkan.

Namun, belakangan aku semakin berharap, semoga retakanku tidak ditumbuhi oleh bunga. Biarkan itu tetap kosong sampai celah yang terbuka semakin mengeras, tidak perlu sekuat baja. Cukup untuk menopang ragaku agar tidak merekah ditanah, cukup untuk melindungi langkah kecil yang kini mengikutiku dari belakang. 

Ya, kini aku tidak sendiri.

Dalam proses yang hampir mengeluarkan isi kepala, aku bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat pemarah lebih parah dari yang ku pelihara selama ini. Mungkin luka yang dunia titipkan kepadanya jauh lebih dalam dari apapun itu, melebihi perasaan yang dikandung oleh seorang pujangga kepada gadis yang mereka cinta.

Bahkan saking marahnya ia pada dunia, amarah itu akan selalu dibawa sampai nanti ke ruang peradilan setelah kematian.

Dan agar dia tidak kehilangan kepercayaan kepada dunia, aku secara tidak sengaja dikirimkan untuk meredam sedikit luka.

Jika amarah dan luka hanya datang sebagai karma, aku rasa itu masih kurang sepadan. Aku selalu bilang, bahwa dia bisa menyebutku dalam setiap makian dan umpatan yang keluar sebagai bentuk pelampiasan agar langkah kakimu sedikit ringan. 

Bahkan secara tidak sadar aku ingin menjadi sepatu yang selalu dilibatkan dalam setiap langkah yang dia ambil, tersesat di jalan yang sama saat dia ingin menghindari kerumunan. Menjadi usang dimakan sesuatu paling rakus bernama usia. 

Hingga jika dia sudah tidak membutuhkan tumpuan, Aku akan secara sukarela pergi keperistirahatan dengan tenang karena telah melindungi setiap langkahnya, sekaligus menjadi disalahkan atas setiap kesialan yang dia temukan di jalan. Semua itu hanya agar dia tidak terlalu membenci bagaimana cara dunia bekerja. Namun, kenapa aku mau mengambil ketidaksengajaan yang ditawarkan oleh dunia? 

Padahal dia bukan tenang yang selama ini kucari. Dia adalah badai dengan segala gemuruh dan guntur yang tidak berhenti meniupkan ketidak pastian. 

Namun saat aku masuk ke dalam, Aku merasa hidup. 

Aku merasa ingin hidup lebih dari siapapun. 

Atau lagi-lagi ini hanya terminal lucidity, sebuah fenomena ketika seseorang yang sekarat tiba-tiba mengalami peningkatan kesadaran, kejernihan mental, atau ingatan sesaat sebelum kematian. Sebuah fenomena dimana aku benar-benar ingin hidup lebih dari siapapun, saat ini aku ingin berjalan lebih lama dengan menggenggam tanganmu dan tidak ingin kembali merasakan kehilangan.

Yah, semoga cerita kita masih panjang, masih banyak kekecewaan yang harus aku selesaikan.

Jika memang aku segera menemui kematian, aku hanya ingin memastikan kamu akan selalu baik-baik saja untuk selamanya. Maka aku dapat pergi dengan sebuah kemenangan.


You May Also Like

0 comments