Mungkin Saja Aku Memang Terlambat
"Kenapa baru sekarang?"
"Jika bisa, aku juga ingin lebih cepat, "
"Lalu, kenapa? "
"Kau tau manusia macam apa aku, semua bagiku terlalu rumit dan berbelit. Daripada menyederhanakan lewat logika, aku lebih suka berputar dan terasasar dengan asa praduga"
"Lalu bagaimana jika kamu kehabisan waktu dan malah melewatkan jawaban yang benar?"
"Memang jika tidak mencobanya satu-satu bagaimana aku tau itu jawaban yang benar?"
"Atau mungkin memang tidak ada yang benar atau salah, namun hanya masalah mau menerima dan melengkapi.. "
Agatha menahan lidahnya agar tidak menyelesaikan kalimat tersebut.
Altar tersenyum kecil, kemudian membuang muka ke arah sawah diikuti hembusan nafas yang panjang. Seakan dia paham apa yang Agatha maksud
"Al?"
Altar menoleh ke arah Agatha.
"Kamu inget gak dulu pas kecil kita punya cita-cita buat beli Sofa terus dikasih di depan rumahmu. Biar kita bisa liat sunset setiap hari,"
"Iya, dan sekarang kita udah berhasil beli sofa itu kan."
"Mungkin dulu kita gak punya sofa, dan sekarang mungkin emang kamu gak bisa punya dua-duanya."
Altar mengernyitkan dahinya, mata fokus menangkap mimik wajah Agatha.
"Maksudnya?"
"Aku gak mau lebay kaya di film-film atau novel romantis yang sering kamu baca,"
"Hah?" Altar semakin kebingungan, kepalanya dipenuhi asap akan pertanyaan apa yang dimaksud teman masa kecilnya tersebut.
"Minggu depan aku berangkat ke Inggris, aku dapet beasiswa buat lanjutin S2 di sana. Aku gak mau pergi diem tanpa pamitan ke kamu, jadi besok tolong anterin aku ke bandara bareng mama sama papa ya." Agatha tersenyum manis, namun matanya tidak melepas matahari yang perlahan mulai pergi.
"Hah? Serius? Kok bisa kamu daftar beasiswa gak ngomong-ngomong aku? Kamu takut aku juga ikut daftar terus jadi sainganmu?" Altar tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.
"Ceritanya panjang, Al" Jawab Agatha seadanya, yang disambut dengan pagelaran purnama untuk menutup hari.
Paling tidak, Agatha hanya ingin menikmati hari terakhir dengan Altar tanpa air mata.

0 comments