Hamburan Rayleigh, seseorang yang belum selesai dengan badainya
Untuk seseorang yang terkenal kagum pada langit, aku terlalu takut kepada ruang hampa dan gelap yang bernama ruang angkasa. Aku selalu kagum dengan hamburan elastis oleh partikel yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan panjang gelombang cahaya yang dipancarkan matahari ke penjuru bimasakti.
Kemudian kepekaan retina kita terhadap spektrum warna biru, melahirkan langit yang kita kenal selama ini. Coba luangkan setidaknya 5 detik untuk melihat canvas raksasa yang selama ini kita anggap berwarna biru, dengan hiasan beberapa gumpalan warna putih yang tidak beraturan. Indah bukan? Langit yang selama ini kita lihat selalu sama dan mungkin bagi beberapa orang membosankan dibandingkan dengan proses migrasi cahaya, ternyata prosesnya jauh lebih merona dibandingkan pancaran warna jingga yang terlalu dipuja.
Aku, selalu mengagumi bagaimana cara semesta bekerja. Bagaimana bisa galaxy yang tidak beraturan ternyata memiliki sistem yang sangat teratur, mungkin ketakutan kepada ruang hampa dan kegelapan disebabkan karena ketidaktahuan dan keterbatasan kita sebagai manusia.
“Melihat jauh ke luar angkasa berarti melihat ke masa lalu alam semesta.”
Perjalanan ke ruang angkasa, sering dikaitkan dengan relativitas waktu. Sesuatu yang mengubah cara pandang manusia terhadap masa lalu dan masa depan, bahkan dari ruang angkasa, keterbatasan manusia berani mendambakan perjalanan melintasi waktu.
Omong kosong pujangga untuk kembali ke masa lalu, kini bukan hanya sekedar bualan yang tertulis disurat cinta semata namun sudah diupayakan dengan berbagai teori dan rumus fisika.
Bahkan yang sibuk untuk mengupayakan perjalanan lintas waktu tersebut bukan hanya ilmuwan, namun kamu juga heboh akan hal tersebut. Pertanyaan nomor dua yang paling sering yang kamu sodorkan adalah,
"Kalo kamu bisa kembali ke masa lalu, kamu mau nemuin aku lebih cepet gak?" Tanyamu di sela-sela kesibukan mengunyah donat yang tinggal setengah, dan tangan kiri yang memegang pisau jika aku salah menjawab.
Aku...... Aku tidak merencanakan untuk menemui mu lebih dulu dibandingkan waktu yang mempertemukan kita. Aku juga tidak mengharapkan kamu datang dari masa depan, untuk menemuiku lebih cepat agar aku tidak membuat banyak kesalahan. Jika seperti itu, aku takut aku bukan orang sama yang akan kamu kenal. Dan segala kesalahan yang berusaha kamu cegah, hanya akan dilimpahkan kepadamu. Saat ini aku memang bukan versi terbaik, namun paling tidak aku sedikit lebih baik.
Dan juga, mungkin selama ini aku belum selesai mengucapkan mantra,
"Bagaimana jika aku belum selesai?
Bukan, aku bukannya belum selesai
dengan masa lalu. Namun aku
belum selesai dengan masa depan."
Seperti lagu banda neira, aku ingin menaklukkan badaiku terlebih dahulu agar bisa menemanimu sampai kita tua, sampai jadi debu.
Namun katamu hidup ini terlalu singkat, jika harus menunggu aku selesai dengan badai. Mungkin tidak akan ada kata selamanya untuk kita. Dan aku yang selama ini terlalu angkuh untuk selalu berjuang sendiri, juga merasa risih ketika ada seseorang melihatku sedang kesulitan.
Sebab, Laki-laki memang ditakdirkan hidup bukan untuk dirinya sendiri. Kesulitan harus disimpan sendiri, dan bahagia harus dibagi. Namun menurutmu aku tidak harus selalu bersikap sebagai lelaki, aku boleh sesekali tidak bersikap dewasa agar tidak lepas kendali.
Hingga paada akhirnya aku mulai mengakui, bahwa aku terlalu sombong. Aku mulai sadar bahwa tidak ada jaminan bahwa aku akan selamat dan menemuimu untuk menghabiskan sisa waktu bersama.
Katamu, lebih baik menjalani hidup dengan gemuruh dan ketidakpastian tapi bersama. Dibandingkan menikmati kedamaian dan hari-hari penuh sorot jingga, namun aku hanya tinggal nama.
Kamu selalu meyakini, bahwa jika kita bertemu lebih awal dari yang seharusnya, kita bisa jauh lebih bahagia. Namun, ketika waktu memilih kita dipertemukan bahkan dalam keadaan kurang tetap. Aku sudah bersyukur, setidaknya kita tetap dipertemukan. Karena cerita kita bukan tentang siapa yang lebih dulu, namun seberapa lama. Sebab, kita adalah manusia yang lahir dengan sempurna. Namun dalam perjalanannya, hidup mengambil, menggores, melukai, dan mengotori kita sebelum dipertemukan.
Agar ketika kita sudah bersama, kita bisa saling mengagumi perjalanan yang telah terlewat, merawat luka yang didapat, dan saling mengutuk dosa yang pernah diperbuat.
Jika, kamu memang bisa melakukan perjalanan dari masa depan. Aku harap kamu hanya melihat kita dari kejauhan, agar kita tetap melakukan kesalahan yang sama, tertawa akan hal yang serupa, dan menangisi hidup bersama.
Aku harap perjalanan mu ke masa lalu bukan dengan misi memperbaiki, namun hanya wisata untuk mengenang atas kehidupan yang telah kita menangi.

0 comments