Apocalypse

by - Desember 13, 2025

Pada malam di mana luka lebih merekah dibandingkan purnama yang mangkir pada pentas rupa. Ia harus kembali mencumbu retakan yang mulai tumbuh belukar, akarnya menjejak dengan penuh liar. Mencoba melebur kembali sesuatu yang telah tersekat, dengan sedikit hembusan asin angin pesisir bibirnya piawai menggoda nasib. Hembusan nafasnya berpacu dengan gairah mengenai kebangkitan yang telah dijanjikan, bahwa setelah berbagai sayatan yang diderita ia akan kembali dengan kelopak paling merah diantara mawar yang kehilangan marwah.

Bahwa ia hidup untuk menuntaskan janji adalah benar adanya, meski selama ini waktu dimakan habis dengan raga seadaanya. Tubuhnya kembali utuh pada hari di mana ia akan menagih janji untuk kembali hidup seutuhnya, tidak kurang bahwa satu helaipun. Namun dipenghujung pergantian hari, tubuhnya hanya dicumbu dingin yang menelusup menuju tulang belulang. 

Desir janji yang membuatnya hidup, juga membuatnya layu dalam kuncup. Sekali lagi, patah bukan hal baru namun ia juga belum terbiasa dengan getirnya. Tangis tak lagi cukup untuk membuatnya mati, sebab sudah kebas ia rasa segala nelangsa yang ada di dunia. Kala bintang tidak lagi memiliki rasi dan mulai berguguran menghantam pipi, kelenjar lakrimal kembali bekerja dua kali lebih keras menciptakan gelombang paling ganas yang mengalir deras.

"Aku akan kembali" kalimat yang selama ini Ia rawat, sekali lagi membuatnya sekarat. Satu,dua,tiga atau selamanya? Tanda-tanda janji itu terpenuh tidak juga mulai terisi. Tubuh ringkihnya kembali dihantam malam, dengan sisa tenaga Ia kembali meyakini bahwa hari itu akan tiba. Matanya tidak lagi utuh, bibirnya tidak lagi bisa menahan derita. Namun Ia kembali meyakini bahwa hari itu akan tiba.

Sebab, jika Ia berhenti percaya, Ia takut janji tersebut benar-benar akan terpenuhi. Janji tersebut hanya akan menemui kenyataan bahwa ternyata dia tidak terlalu dinanti.

Aku harap, ia hanya terus percaya sembari melanjutkan hidup dengan pendar warna paling pudar. Sebab jika cahaya menangkap ronanya terlalu bersinar, janji itu hanya akan menunda kedatangannya sekali lagi dan membuatnya layu kembali. 

Diantara determinasi paling menjijikan pada masa lalu dan yang akan datang, harapan adalah hal paling menjijikan yang bisa hidup berikan. 

Aku harus mengakhiri cerita ini, atau aku hanya akan membiarkan Ia mati kehabisan air mata. Atau memang aku hanya tidak bisa mengakhiri segala sesuatu dengan baik dan sedikit manis. 

You May Also Like

0 comments