Sebuah Sajak Marah

by - Maret 09, 2026

Biarkan matahari diatas dahi yang menjemput ku dari mati suri, sebab sisiran warna jingga pada embun hasil oksidasi terlalu prematur untuk memulai hari. Lagipula persetan dengan rejeki dipatok ayam, aku lebih suka ayam goreng dan terkadang ayam bakar. Rima tolol.

Apakah aku ingin hidup panjang? Selamanya.

Atau aku hanya ingin hidup sebentar namun bahagia? Semoga, bahagia saja.

Segala hal yang aku akui presentasi hanya dianggap sebagai sepantasnya. Aku hanyalah serpihan yang disapu oleh anak tetangga setiap pagi, nominal dibelakang koma dari rekening anak saudara, tamu undangan diresepsi teman SMA, dan objek perbandingan antara mapan dan terlantar di acara keluarga. Bangsat sistem negara yang bobrok.

Kapalku pecah diseperempat usia, keparat. Tangisku subur dibuahi makian sepanjang perjalanan. Sialan, aku harus berenang agar tidak dianggap produk gagal. Bagaimana mungkin aku bisa mencapai tepian jika amunisiku dikorupsi pada setiap slip gaji bulanan atas dasar kewajiban?

Mungkin aku akan sampai, tidak aku harus sampai. Kapan? Mungkin kapan-kapan mungkin sepanjang jalan. Aku sadar sedang dipermainkan, namun dunia memang hanya sekumpulan perlombaan. Bagiku segala hal tidak harus selesai dengan sempurna, terkadang beberapa luka kecil membuatnya lebih berharga. Namun mereka terlalu menganggap dirinya sempurna, sedikit cela dianggap dosa yang membuat mereka diusir dari surga.

Aku juga sadar, yang bangsat bukan hanya sistem negara namun diriku juga seorang keparat. Dunia sempat memberiku kesempatan, memberiku cahaya sebagai ruang untuk bertumbuh dan merekah. Namun, belum sempat berkuncup, aku menebas ruang dangkal hanya untuk sebuah pembuktian. Ternyata aku bukannya tidak suka ketenangan, aku hanya haus validasi. Dibandingkan tersesat di hutan dengan segala sumber kehidupan yang disediakan oleh alam, aku lebih suka menyusuri gurun pasir untuk mencari telaga demi sekedar memastikan bahwa bumi masih membutuhkan diriku sehingga tidak akan membiarkan diriku mati kelaparan.

Sebuah kesombongan dari orang tolol yang selalu menyia-yiakan segala hal yang sudah diberikan. Dan diujung mimpi basah, ternyata padang pasir berhasil membuatku merindukan telaga, sedikit terlintas bahwa aku lebih rela mati tenggelam untuk saat ini. Alveolus penuh sesak dengan harapan, hingga mata sering salah mengartikan keadaan. 

Aku selalu percaya, bahwa intuisiku selalu benar, jika tidak dilakukan. Omong kosong lebih baik gagal mencoba daripada menyesal melewatkan kesempatan, kini kujadikan kambing hitam atas nasib yang sial.

Sebenarnya aku lupa bagaimana bisa berakhir dilautan pasir seperti ini, terakhir kali ku ingat aku masih tersesat di dalam pikiranku sendiri. Demi menantang masa muda yang katanya hanya sekali, aku berani melepaskan semua yang ku miliki. Dan ya, sepertinya aku kalah. Hasil yang hanya membuatku semakin jauh dari sebuah ketenangan bernama rumah.

Mungkin memang aku hanya terlalu jauh berusaha untuk membuktikan, demi nilai yang tidak seberapa. Bahwa aku memang dibutuhkan. 

Memang siapa aku? Aku bukan gemuruh hujan yang keberadaannya dibenci namun ternyata menghidupi. Aku bukan tanda koma yang tidak pernah dibaca namun ternyata makna dari sebuah susunan kata. Aku? Hanylah seseorang yang naif, bahkan aku bukan tokoh utama dihidupku sendiri. Matilah bangsat keparat.


Maaf.

You May Also Like

0 comments