Ego Dalam Sistem Kerja Otak
Manusia lucu ya, sesuatu yang tidak sesuai rencana mereka anggap sebagai kegagalan, mungkin memang itu garis terbaik yang diberikan oleh Tuhan.
Seringkali yang kita inginkan hadir dengan bentuk yang berbeda, dan karena terlalu sibuk mencari, kita sering lupa apa yang telah dihidangkan di depan mata. Mungkin benar jika Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Bahayanya menjadi manusia adalah tidak bisa bertahan pada satu pendirian, apalagi yang sudah tercemar oleh urusan hati. Terkadang ia ingin pergi, terkadang ia ingin bertahan, terkadang ia hanya tidak ingin kehilangan. Masalahnya adalah ego mereka sendiri. Manusia menganggap bahwa musuh mereka adalah keadaan, sebab ego selalu lebih pintar. Ego selalu menyerang pada titik buta yang tidak pernah disadari oleh manusia. Sehingga ketika manusia sedang sibuk bergulat untuk menyalahkan keadaan bahkan keputusan Tuhan, ego telah berhasil menyerang dari belakang.
Hebatnya lagi, tanpa sadar kita sering sekali memberi ego kita makan. Melalui pembenaran-pembenaran dalam balutan pembelaan. Tidak ingin merasa salah sudah termasuk bentuk kalah. Kita memang selalu kerdil ketika rasa mulai ikut campur dalam sistem kerja otak.
Memiliki ego adalah hal yang wajar, namun sepertinya kita hanya perlu sedikit melunak, ketika suka ya bilang suka. Ketika tidak nyaman ya bilang tidak nyaman. Ketika cinta ya bilang cinta. Ketika bosan ya tinggal bilang suka. Sering sekali atas nama ego yang dibalut harga diri, kita sering berpura-pura dan akhirnya lupa akan apa yang dapat membuat kita bahagia. Hal-hal yang seharusnya bertahan, namun terpaksa saling meninggalkan.
Manusia memang penuh kamuflase, kita semua adalah aktor yang sedang berperan dalam panggung kehidupan. Sehingga tidak perlu latihan, kita sudah terbiasa untuk berpura-pura menjadi mahkluk paling dicurangi oleh kehidupan.
Terkadang, manusia hanya butuh satu alasan untuk menentukan untuk berjuang atau menghilang.
