7 September
Ada pepatah yang berbunyi bahwa "Sejarah ditulis oleh pihak pemenang", maka pada kesempatan kali ini aku ajak kalian untuk melihat sejarah dari pihak yang kalah atau lebih tepatnya memang tidak ada pemenang pada pertempuran kali ini. Sejarah yang berkisah tentang seorang pria yang mencoba untuk terbiasa, akan hari-hari setelah pertempuran yang terasa begitu mencekam.
Pada awalnya aku selalu merasa seperti bagaimana caranya untuk tetap menjalankan proses fotosintesis jika matahari yang selama ini didamba telah tenggelam termakan oleh malam? Paru-paru ku rindu akan desiran namamu.
Selepas tidak lagi mendapatkan pencahayaan dari sinar mu, hari-hariku hanya disesaki oleh kegelapan, penyesalan, dan umpatan. Akan tetapi setelah serangkai perjalanan yang telah aku lakukan, pada akhirnya aku berhasil menemukan sebuah jawaban dari kehilangan. Yaitu, berdamai.
Berdamai dengan diri sendiri sebelum menjalin hubungan kembali, agar kebodohan yang dimiliki tidak melukai orang-orang yang mungkin akan menghampiri.
Jika saja waktu bisa diputar, aku akan selalu ingin mengulangi fase ketika kita masih bersama. Aku tidak ingin mengubah apapun, bahkan alasan yang membuatmu pergi. Mungkin aku sudah bisa menikmati setiap suka dan luka tentang kita. Mungkin aku sudah dapat menerima bahwa kita telah hidup pada putaran poros waktu yang berbeda. Pelarian yang aku lakukan terkesan sia-sia, sebab untuk merelakan mu ternyata aku tidak perlu kemana-mana. Aku hanya harus jujur. Jujur kepada keadaan, teman, bahkan jujur kepada diri sendiri bahwa mungkin rasa ingin memiliki masih ada. Seiring waktu, aku mulai belajar terbiasa bahwa kita memang seharusnya tidak bersama.
Untuk mu.
Tetaplah menjadi sebaik-baik tempat untuk kembali. Tetaplah menjadi penentu arah ketika kaki ku kebingungan dalam menentukan langkah. Tetaplah menjadi pagi yang dinanti-nanti oleh kehidupan di bumi. Tetaplah menjadi malam yang diidam-idamkan oleh kelip kunang-kunang ketika rindu sapaan petang. Tetaplah, menjadi dirimu sendiri yang sederhana namun mempesona.
Mungkin sesekali aku akan kembali, bukan untuk mencoba mengulangi. Namun hanya sekedar menanyakan kabar, sekedar melihat senyuman yang telah kembali mengakar. Atau bahkan sekedar memastikan bahwa hatimu telah berhasil dimenangkan oleh pria lain. Mungkin sekali lagi aku harus mengakui pepatah-pepatah tua yang bangsat namun ternyata relevan, bahwa "Mencintai tidak harus memiliki". Makna cinta ku kepadamu telah berevolusi menjadi rasa yang jauh lebih sederhana. Tanpa harus melangkah pada arah yang sama, sebab lagu kita memiliki susunan tangga nada yang berbeda.
