Fatamorgana
Hari ini matahari berlayar lebih singkat, entah rindu dengan dermaga atau sedang tidak baik-baik saja, ia memutuskan pulang lebih cepat. Hari ini dengan mudahnya berlalu, awan dibalut jelaga berwarna abu-abu, menunggu hujan agar terbilas dan menjadi warna baru. Namun sayangnya, hujan lebih suka singgah di matamu. Melarung duka mengalir deras membasahi pelipis mata, menyeret luka masa lalu ke panggung masa depan yang baru akan direncanakan. Hidupmu kembali hancur, saat kepingan masa lalu belum benar-benar kau bersihkan.
Kau kembali mengaku kalah, akan kilau masa lalu yang indah. Entah bagaimana, kau bisa lupa akan bagaimana cara kalian berpisah. Hubungan itu kalian akhiri dengan hanya menyisakan dirimu sendiri, mencoba tetap berdiri walau bumi tidak merestui. Air mata menjelma darah, tubuhmu dipaksa berdiri walau persendianmu tengah dijarah. Pipimu yang anggun hancur oleh hujan meteor kala membakar cakrawala, yang membuat bumi bak jajahan neraka. Namun hebatnya, kau selalu berhasil menerbitkan matahari di pagi hari. Kau tidak tega jika embun harus kecewa, sebab harus berpijar tanpa nyala cahaya. Kau tidak tega jika ayam kehilangan suara, sebab pagi hanya sekedar bualan para pujangga. Ku pikir kau cukup hebat, berdiri seolah bumi berotasi dengan sewajarnya. Namun, hatimu telah hancur tak berupa.
Genap satu putaran bumi mengikat matahari, kalender rumah mulai diganti, resolusi kembali diucapkan sebagai pedoman bahkan sebuah janji untuk diri sendiri. Tawamu kembali terasa hangat, sorot matamu kembali terasa redup namun selalu membuat takjup. Saat bunga sudah kembali tumbuh, bajingan itu kembali hadir hanya untuk membuat suasana kembali keruh.
Ia kembali, mengulang bahagia berupa program kerja berwujud rajutan warna-warni pelangi. Seperti rakyat yang terbuai mimpi, kau pun kembali memaksa menipu diri. Matamu kembali terkena silau cahaya, entah itu nyata atau hanya sekedar fatamorgana. Gulita melahap gelap, kala dosa-dosa atas cinta terucap. Kau kembali menghina malam, lupa bahwa cahaya yang sedang kau terima tidak akan bisa menjadi nyata.
Kita pernah seriang bunyi kamera, kala langit dan cahaya bersekutu guna melahirkan senja.
Pada rengkuh rapuh siang menghargai sinar bintang, kau tidak pernah sadar akan hadirku. Aku tidak pernah pergi, bahkan bergeser pun tidak sama sekali. Namun, aku pun tidak pernah mendapatkan perhatian yang seharusnya kau curahkan, saat aku bersusah payah merangkai cerita, hanya sebuah penyanggahan yang aku terima. Walau ini tidak terlalu buruk, sebab saat harimu terlalu melelahkan kau tau arah kemana kaki-kakimu melangkah. Aku tidak perlu takut, bahwa besok, lusa atau entah kapan, aku tidak akan pernah merasakan kehilangan. Setidaknya, wujudmu akan selalu ada. Walau aku tidak akan pernah memiliki hak milik, atas bahagia yang selalu kau hidangkan dengan penuh suka cita. Aku rela, melanggar titah hidup agar senyum mu tidak meredup.
