Obsesif Kompulsif
Dimana bising yang dulu kau janjikan? Kini aku tengah kesepian, menanti rembulan pulang dari perantauan. Hingga aku hanya bisa untuk kembali menyelami pesan-pesan kita di masa lalu, yang pernah menjadi alasan untuk melawan kantuk demi membuat satu sama lain takjub dengan pencapaian yang tidak seberapa. Namun karena itu dibuat bersamamu, aku selalu meyakini bahwa hari-hari itu masih menjadi hari besar di hidupku yang kelak akan ku rayakan setiap tahunnya. Obralan kita hanyalah kumpulan doa yang saling bertubrukan dan menyatu dalam tangisan yang dipisahkan oleh malam, selarut apapun kita menyelam yang tersisa hanyalah dedak yang menyesakkan.
Aku sedikit paham, mengapa patah hati dapat membawa seseorang menuju langkah-langkah panjang petualangan. Mengapa patah hati membuat seseorang menjadi lebih akrab dengan alkohol, sebab mereka butuh alasan untuk sejenak melupakan. Tidak peduli sudah berapa gunung yang telah dikunjungi, sudah berapa botol yang telah dihabisi. Sakit yang kau bawa tak juga memudar, sebab kau memilih cara yang salah untuk menghindar. Mungkin cara yang sedang ku tempuh tidak jauh berbeda.
Jika kamu tidak bisa lagi membaca ku pada selembar kertas yang disesaki oleh penyesalan, mungkin aku sedang terlibat pada usaha pelarian. Tanpa ada yang mengejar juga tanpa ada alasan untuk menghindar. Aku hanya sedang ingin berlari. Mengunjungi beberapa alenia dan terus bergerak menuju tepi, berpindah dari awal paragraf ke paragraf lain demi menyusun sebuah alibi. Demi menghindari gelapnya malam yang menyesakkan.
Memiliki rindu namun tidak memiliki puan.
Setelah sekian lama terlelap dalam rindu, ada rasa geli yang menggelitik saat aku ingin mencoba untuk meminta kembali bertemu. Yang membuat senyumku tidak bisa padam, kala aku sedang membayangkan akan tenggelam pada keindahan sorot mata yang kamu hidangkan.
Semakin malam, bisingnya sunyi menikam gendang telinga semakin dalam. Membuat ragaku hilang tersekat-sekat basa-basi yang sedari tadi tersaji. Mungkin dikarenakan kepalamu selalu disodori hal-hal baru, yang membuat gerakan ku semakin meragu. Untuk sekedar merayu, bahkan mengajak bertemu.
Aku hanya sedang dalam sebuah perjalanan untuk mencari alasan pulang. Mungkin tidak sopan untuk memintamu kembali menjadi tempat tinggal, setelah apa yang ku lakukan hanya melahirkan sesal. Kamu mungkin menganggap apa yang selama ini coba aku sampaikan hanyalah keraguan setelah mencoba untuk pergi. Aku sendiri juga tidak begitu yakin mengapa aku ingin kembali, namun melihat kamu sudah sekuat ini bertahan meski hanya sendiri. Aku pun ikut bahagia.
Mungkin saat ini aku hanya sedang butuh teman, meski tidak memiliki bahan untuk diceritakan. Sebab selama ini hanya kamu yang mengerti, bahwa aku hanya butuh teman bukan bahan obrolan. Kamu memahami aku yang tidak pandai dalam mengekpresikan diri. Kamu paham bahwa aku tidak terlalu suka bercerita ketika kita menghabiskan waktu bersama. Dan kini, kamu jugalah yang paling paham, bahwa kita tidak lagi dapat bersama.
