Delusi Inersia

by - Juni 19, 2021

Dalam perjalanan panjang menapaki berbagai kemungkinan demi mencari bahan untuk meracik bahagia yang diidam-idamkan, aku sering sekali salah mengira cahaya yang sekilas berpijar adalah pulang dari pergi yang sedang ku kerjakan. Sebenarnya kaki-kakiku hanya terlalu lelah untuk terjebak kembali ke dalam sebuah hubungan yang melibatkan perasaan.

Sebab sesering apapun aku menjalin perasaan, aku tetap tidak pandai dalam hal mengakhiri sebuah hubungan. Bagaimana jika memang jatuh cinta adalah pergulatan di medan perang? 
Saling mengayunkan pedang atas nama keegoisan, kita dipaksa mati atas nama kebersamaan. Mengusik ranah pribadi, kita ditelanjangi hingga tidak punya privasi. Namun sekali lagi, atas nama cinta kita harus tunduk didepan toleransi.

Hubungan tenggang rasa antar umat manusia sering memakan korban jiwa, entah kehilangan hal-hal sederhana yang sering membuat bahagia. Sampai merelakan hal besar agar tidak saling melanggar. 
Sebenarnya sebuah hubungan memiliki batas, namun selama ini rasa saling menghargai hanya sekedar formalitas.

Ada garis yang menjalar menyusup ke dalam aliran nadi kala kedua manusia memutuskan untuk saling mengikat perasaan, sebab itu hanyalah awal pembuka sebelum terompet perang ditiupkan. Kita selalu lengah kala disapa ketenangan pada awal ikatan, lupa bahwa badai paling mengerikan tengah mengintai untuk menuntaskan kelaparan. Debat-debat kecil yang dianggap sebagai hal yang menggemaskan dalam sebuah peperangan, hanyalah tragedi pembunuhan yang tidak boleh dituntaskan.

Diakhir hari setelah salah satu pihak telah merasa menang, ia akan pergi dan mencari perang baru. Meninggalkan pihak yang lain tercengkram dalam trauma akan kekalahan.

You May Also Like

2 comments

  1. Jika keduanya sama-sama menang karena meninggalkan medan yang tidak inginkan? Masih bisa disebutkah itu kemenangan? Karena kemenangan hanya ada jika ada pihak yang kalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya mereka telah menemukan definisi menang menurut mereka sendiri, namun jika dilihat dari sifat manusia, pada setiap pertemuan akan selalu ada pihak yang kalah. Hanya saja ia pandai untuk tetap berpura-pura menang, agar membuat pihak lawan tidak terlalu senang

      Hapus