Tokoh Utama
Air beralih gelap, aktivitas manusia pun mulai terlelap. Meski hidup telah beralih ke alam mimpi, namun alur hidup manusia terus berotasi. Yang menyebalkan dari hidup adalah bahwa tidak bisa berhenti pada satu titik, waktu akan terus mengalir menghanyutkan raga menuju dermaga rasa sakit tanpa adanya titik balik. Waktu adalah monster tanpa rasa puas, tanpa henti menggerogoti hidup hingga kita akan hilang tanpa bekas.
Ada nelangsa yang tengah berpijar di pagelaran purnama, mengemis sedikit mata agar ia memiliki nama, atas nama rajutan rencana yang dilantunkan oleh manusia. Manusia hanya bisa berencana, sisanya ya hanya tinggal menunggu kecewa.
Proses pendewasaan memang tidak bisa dikatakan mudah, peralihan sifat dari anak kecil menuju panggung utama untuk menanggung semua beban secara mandiri. Pada proses ini kita selalu merasa bahwa alur cerita yang kita jalani jauh lebih terjal dibandingkan orang lain. Kita selalu merasa bahwa akhir yang bahagia hanya ada di cerita orang lain, tidak untuk kita yang hanya dipenuhi konflik dan diakhiri dengan penyesalan. Yang menakutkan dari terlalu sering menghadapi kegagalan, akan melahirkan rasa untuk menyalahkan keadaan. Namun menurutku itu adalah bagian dari proses, namun membandingkan dengan alur cerita orang lain tidaklah pantas. Mereka berjuang dengan bekal dan kesehatan mental yang berbeda. Tekanan dari lingkungan juga tidak dapat dikesampingkan. Lingkungan sering kali menjadi monster yang mendikte hidup kita, tempat kita untuk bertumbuh, berkembang, bercabang, mengakar, dikejar, mengejar, patah, jatuh, kembali utuh.
Ahh, persetan. Tujuan kita hidup hanya sekedar memenuhi ekspektasi orang lain. Mengulang rutinitas agar hidup kita bisa dikatakan pantas, guna meredam suara-suara yang sering membuat kuping memanas. Sebenarnya kita hidup untuk siapa? Masa depan yang akan kita hadapi, apakah ada yang peduli? Mungkin maksut mereka baik, namun mereka lupa bahwa kita juga manusia. Yang memiliki keinginan untuk menentukan pilihan. Yang memiliki rasa lelah sebab jalan yang kita tempuh tidaklah mudah. Mereka lupa, bahwa kita hidup pada zaman yang berbeda. Nasihat usang yang mereka berikan kadang sudah tidak relevan. Mereka lupa, bahwa kita hidup dengan alur cerita yang berbeda.
Terkadang seleksi alam yang dihadapi oleh anak muda zaman sekarang hadir dari lingkungan kita berkembang.
Mungkin tahapan ini terlalu sulit dan panjang untuk dilewati, namun bukannya ini alur yang harus dilewati oleh tokoh utama untuk menuju akhir yang diidam-idamkan? Yah, mungkin kata-kata ini terkesan omong kosong, namun "Semangat ya, jangan menjadi orang asing untuk diri sendiri hanya untuk kebahagiaan orang lain. Kita hidup dengan alur cerita yang berbeda, kisah hidup orang lain cukup dijadikan motivasi bukan rasa iri. Mencintai diri sendiri adalah salah satu bentuk rasa syukur."
