Harus Bagaimana Lagi Aku Bercerita
by
Bonnars
- September 03, 2022
Katamu aku bukan lagi matahari, aku bukan lagi poros rotasi hingga kamu ragu untuk melingkarkan janji. Sinar rembulan begitu canggung terpantul dari sorot matamu, kala kita memutuskan untuk tidak lagi bertemu. Katamu, kamu terlalu sibuk untuk mempersiapkan kelulusan dan menyelesaikan kerja sampingan. Aku pun juga tengah sibuk untuk menata kembali, setelah... Ah sudahlah.
Hidup memang penuh kejutan, jika dulu aku hidup dengan penuh semangat dan mimpi-mimpi yang terencana. Kini hanya terjerat rutinitas yang memaksa raga untuk terus menua. Setiap hari dipaksa bangun dengan harapan agar hari berjalan seperti biasa. Tidak perlu hebat, cukup bumi berputar sebagaimana mestinya agar di penghujung hari aku tiba dengan selamat.
Semakin berjalan semakin muak dengan isi dunia, setiap hari rasanya ingin mati saja. Ingin rasanya berkelana menyusuri fana menuju surga, namun takut bekal yang dibawa tidak mampu untuk melewati neraka. Meski di dalam tubuhku surga dan neraka tumbuh bersama. Malaikat dan iblis bekerja sama menyusun fatamorgana tentang hidup yang bahagia. Menemani proses pengurangan usia dalam bentuk do'a yang tumbuh bersama dosa.
Hah, semoga saja surga tidak ikut pergi, sebab kehilanganmu mungkin sebuah hukuman atas kecemburuan Tuhan atas bagaimana aku terlalu memujamu. Ibadah lima kali sehari saja sering terlewat dengan alasan tidak sempat, namun bersamamu selama 24 jam selalu terasa terlalu singkat. Manusia.
Satu-satunya langkah yang dapat ditempuh adalah menunggu, sembari merawat benih surga agar dapat tumbuh kembali. Demi melawan neraka yang berwujud diri sendiri yang terlalu sibuk menyumpah serapahi cara kerja dunia, hingga lupa introspeksi. Berharap selamat kala menyusuri hutan belantara paling liar bernama dewasa, maka sedikit cahaya akan sangat membantu nantinya.
Saat ini biarlah aku menjadi bianglala sembari menahan hasrat menjadi roda, agar terbiasa dengan cara kerja dunia sebelum nantinya bahagia dan terluka pada waktu yang sama. Mencoba untuk membiasakan diri untuk tidak mengunjungi profil media sosial mu, berpura-pura tidak peduli dengan kabarmu, dan mencoba ikut berbahagia atas segala pilihan yang sedang kamu pertaruhkan. Aku akan senantiasa berputar pada tempat yang sama, sembari menunggu bahwa kita benar-benar dapat bahagia dengan tidak bersama.
